Terkena demam berdarah

Terkena demam berdarah

Sudah agak lama kejadiannya, tapi karena penyakit demam berdarah (DBD – demam berdarah dengue) mencuat lagi ke permukaan (istilahnya happening), bahkan mengambil korban jiwa juga seperti Covid-19, maka tidak ada salahnya aku bagi ceritanya di sini.

Aku terkena DBD untuk ketiga kalinya sepanjang yang kuingat, 2 kali opname di RS dan 1 kali ‘opname’ di rumah. Dua yang pertama kejadiannya tahun 2003 dan 2005. Tahun 2005 aku disuruh dokter untuk opname tapi menolak dengan alasan waktu opname tahun 2003, baru semalam berbaring di RS, besoknya dibilang perawat kondisi sudah baik, tapi tetap tidak boleh pulang sebelum 3 hari.

Belajar dari pengalaman itu, waktu tahun 2005 divonis dokter terkena DBD lagi, aku bilang keberatan untuk dirawat di RS dan setelah kujelaskan, dokter mengizinkan dengan syarat di rumah harus melakukan apa yang diinstruksikan dokter dan setiap hari harus cek darah (trombosit) lalu laporan ke dokter/RS. Alhamdulillah trombosit naik terus dan aku dinyatakan sembuh. Bahkan berat badan (BB) naik dari yang semula hanya 52-53 kg (BB sejak SMA) naik terus secara meyakinkan sampai puncaknya sekitar 64 kg di tahun berapa aku lupa.

Kena ketiga kalinya

Tahun 2020 rupanya DBD masih bisa menghinggapiku. Kali ini karena diawali dengan mual, pusing, dan beberapa kali muntah sejak hari Jumatnya, akhirnya aku nyerah. Sabtu malam, 1 Februari 2020 aku ke RS langsung ke IGD dan setelah dicek, trombosit 139.000 dari nilai rujukan 150.000 dan aku dianjurkan untuk langsung opname. Di ruang IGD sudah langsung diinfus. Admin diselesaikan, berlanjut ke kamar rawat inap.

Trombosit turun terus pada pemeriksaan-pemeriksaan berikutnya: 128.000. lalu terendah 117.000 sebelum mulai naik lagi ke 122.000 dan seterusnya. Lima (5) hari dirawat aku boleh pulang, tapi hari-hari pemulihannya ternyata masih parah. Perut tetap mual dan masih terus muntah. Kondisi itu masih seperti itu waktu kontrol ke dokter yang selama ini merawat di RS. Meski sudah dilaporkan masih muntah, dokter tidak melakukan perubahan apa-apa, obat yang sama diinstuksikan untuk diteruskan.

Alhasil sehari sesudah kontrol tersebut, esok malamnya aku berobat lagi ke RS yang sama tapi ke dokter internis yang berbeda. Aku lapor melengkapi medical record yang beliau baca, bahwa aku masih belum bisa makan dengan nyaman, karena masih terus pusing dan muntah. Semua obat aku bawa dan tunjukkan ke dokter kedua ini. Entah karena lebih senior dan berpengalaman, beliau langsung memberi arahan agar salah satu obat (obat lambung) dihentikan. Tetap diberi obat pengganti untuk mual, diminum sebelum makan.

Ternyata benar, setelah obat tersebut dihentikan, mulai bisa makan dengan lebih nyaman tanpa diganggu rasa mual lagi. Tanggal 13 Februari 2020 atau setelah 2 minggu terganggu, aku mulai beraktivitas seperti biasa kembali.

Fogging?

Dari kejadian ketiga ini bertambah pengetahuanku. Rupanya fogging (pengasapan) di lingkungan itu dilakukan bukan untuk pencegahan agar tidak ada warga yang terkena DBD, melainkan dilakukan setelah ada korban. Itu pun baru akan dilayani kalau korban bisa menunjukkan bahwa trombositnya di bawah 100. Karena trombosit terendah di laporanku 117, maka permohonan untuk fogging pun belum dapat dilayani. Utusan dari Puskesmas Kecamatan sampai datang ke rumah untuk menanyakan apakah ada korban yang trombositnya sampai di bawah 100.

Alhasil kami gunakan laporan RS atas nama cucuku yang kecil, yang masuk opname di RS 3 hari sebelum aku masuk. Trombositnya waktu awal dirawat turun sampai 80.000. Setelah dokumen laporan ini kami sampaikan ke Puskesmas Kecamatan lewat Ketua RT, barulah mendapat tanggapan akan dilaksanakannya fogging.

Fogging dilaksanakan 2 kali dalam selang seminggu, yaitu hari Minggu, 23 Februari 2020 dan Minggu, 1 Maret 2020. Tidak hanya rumahku, melainkan seluruh rumah dalam RT kami disemprot. Begitu pula rumah-rumah di RT sebelah-menyebelah.

Selain fogging, petugas Puskesmas pun memberikan vitamin buat si kecil sebanyak 2 atau 3 kali selang seminggu. Diantar ke rumah dan gratis.

Pada waktu fogging, terungkap info bahwa beberapa warga dalam RT kami pun sudah terkena DBD, ada yang di depan rumah, ada yang agak jauh, dan ada yang cukup jauh dari rumah kami. (wp)

*Disclaimer: Foto hanya sekedar ilustrasi, tidak terkait dengan merek apa pun.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Beberapa jenis nyamuk menularkan (atau menyebarkan) virus dengue. Demam dengue juga disebut sebagai “breakbone fever” atau “bonebreak fever” (demam sendi) karena dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang mereka patah. Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam; sakit kepala; kulit kemerahan yang tampak seperti campak; serta nyeri otot dan persendian. Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang mengancam jiwa. Bentuk pertama adalah demam berdarah, yang menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Bentuk kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.

Pengasapan adalah sebuah teknik yang dipakai untuk membunuh para serangga yang melibatkan pemakaian semprotan pestisida murni (aerosol) yang diarahkan oleh sebuah pompa udara. Dalam beberapa kasus, uap air panas dipakai untuk menyemprot dan didiamkan dalam waktu yang lama. Pestisida berdampak cepat seperti pyrethroids biasanya dipakai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *