Browsed by
Category: Kristalisasi Permenungan

Rumah “di jual”

Rumah “di jual”

Sabtu sore ini (24/10/09) saya sempatkan akses ke FB, melihat sebuah foto yang menarik yang ditayangkan oleh kawan saya. Semula saya pikir dia berbaik hati ingin menyumbangkan foto itu ke saya karena saya punya blog yang banyak membahas soal ejaan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Ternyata dugaan saya keliru, karena sewaktu saya berikan komentar soal ejaan, dia katakan bahwa dia serius mau jual rumah.

Sekalian mengisi kembali blog saya yang sudah lama vakum, tentu tidak ada salahnya juga membantu kawan yang mau menjual rumahnya, sehingga foto tersebut saya tampilkan di sini.

Salah satu contoh lagi penulisan awalan 'di' yang dipisah dengan kata dasarnya. (Foto: Darwis Yudi Brata)
Salah satu contoh lagi penulisan awalan 'di' yang dipisah dengan kata dasarnya. (Foto: Darwis Yudi Brata)
Menaikan atau menaikkan?

Menaikan atau menaikkan?

Masih soal kebahasaan. Pulang dari Yogyakarta urusan APJII hari Selasa sore, 12 Mei 2009 di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, aku dan rekan berjalan ke luar mencari lokasi Bus Bandara. Tidak sengaja terlihat di lokasi penjemputan penumpang, sebuah rambu dilarang parkir dengan huruf P dicoret. Rambu tersebut dilengkapi dengan tulisan di bawahnya berbunyi: KECUALI MENAIKAN/MENURUNKAN PENUMPANG.

Apa yang salah dari kata di atas? Kata dasar ‘naik’ pada kata menaikan itu seharusnya diberi akhiran kan, bukan an, jadi yang benar penulisannya adalah menaikkan yang kalau dipisahkan berdasarkan suku katanya menjadi me-na-ik-kan. Berbeda dengan kenaikan, kata ini memang berakhiran an yang kalau dipisahkan menjadi ke-na-ik-an.

Rambu di Bandara Soekarno-Hatta
Rambu di Bandara Soekarno-Hatta

Masih di tempat menunggu bus bandara, mata tertarik pada sebuah bilbor raksasa dengan modelnya Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Negara kita dan Ibu Fadilah Supari, Menteri Kesehatan kita. Bilbor itu isinya mengajak masyarakat berperilaku hidup sehat. Di baris paling bawah tertulis: Makan-makanan Bergizi.

Apa yang salah? Kalimat itu tentu maksudnya ‘Makanlah makanan yang bergizi’. Agar lebih singkat dapat saja ditulis ‘Makan Makanan Bergizi’. Jadi, seharusnya tidak digunakan tanda hubung (-).  Penggunaan kata ulang dan akhiran an biasanya diartikan sebagai menyerupai atau bermacam-macam, misalnya orang-orangan sawah artinya menyerupai orang, buah-buahan artinya bermacam-macam buah. Penulisan makan-makanan tidak dapat diartikan menyerupai makan atau bermacam-macam makan.

Makan-makanan(?) Bergizi - bilbor di Bandara Soekarno-Hatta
Makan-makanan(?) Bergizi – bilbor di Bandara Soekarno-Hatta

Pembuatan rambu atau bilbor sudah lazim dilakukan oleh ahli membuat papan reklame yang tersebar di penjuru kota. Mereka umumnya anggota masyarakat biasa yang bukan ahli bahasa atau memperhatikan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tertulisnya ejaan yang salah pada rambu dengan demikian menjadi tanggung jawab si pemesan yang logikanya mempunyai pengetahuan bahasa yang lebih baik dari si pembuat papan reklame.

Mari kita upayakan terus penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku pun mengakui belum dapat menggunakannya dengan sempurna, namun terus belajar dan berusaha. Setiap kali ada yang meragukan, saya sempatkan untuk melihat ke buku atau internet yang ditulis oleh para pakar bahasa.

Mobil “di jual”, harap “di isi”

Mobil “di jual”, harap “di isi”

Salah kaprah penggunaan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan rupanya terus berlanjut hingga hari ini. Padahal sudah 37 tahun sejak EYD – Ejaan Yang Disempurnakan diresmikan penggunaannya tanggal 16 Agustus 1972. Tulisan seperti judul di atas sangat sering kita jumpai di sekitar kita. Tahukah anda bahwa ejaan tersebut salah? Menyalahi EYD?

Jangankan oleh masyarakat awam dan kelas bawah, di lokasi yang mentereng pun penulisan seperti itu masih kerap terlihat. Di salah satu tempat pendidikan, di SMAN terkenal di Jakarta Selatan saja di pintunya masih dapat kita baca “Pintu di tutup pkl. 07.00”. Bisa dibayangkan bagaimana keluaran sekolah tersebut nantinya. Lalu di Gerbang Tol Padalarang Barat kalau kita dari arah Jakarta, tertera tulisan sangat besar dengan huruf kapital “Tidak tukar tiket DI DENDA di gerbang exit”.

Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09
Gerbang tol Padalarang Barat, 5/4/09

Padahal kalau mau sedikit belajar, sangat mudah membedakan mana di yang harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya dan mana di yang harus diserangkaikan. Di sekolahku di Medan, EYD mulai diajarkan tahun 1973, saat aku duduk di Kelas 3 SMP. Begitu mulai diberlakukan, aku bersyukur tidak mengalami kesulitan untuk menggunakannya. Namun untuk lebih memahami secara sistematis, April 1984 aku beli buku Pak Yus Badudu terbitan 1983 (cetakan kedua September 1983) berjudul “Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar”. Mari kita baca di bagian ‘Bagaimana membedakan di Kata Depan dengan di Awalan’.

Awalan di- hanya terdapat pada kata kerja, baik kata kerja itu berakhiran -kan atau -i maupun tanpa akhiran-akhiran itu.

Contoh:
dipukul, dipukulkan, dipukuli
dilempar, dilemparkan, dilempari

Kata kerja yang berawalan di- itu ialah semua kata yang menjadi jawab pertanyaan diapakan dia atau diapakan benda itu. Ini adalah salah satu cara mengenal kata dengan awalan di-. Cara yang kedua ialah kata-kata kerja berawalan di- mempunyai bentuk lawan awalan me-
dipukul lawannya      memukul
dipukulkan lawannya      memukulkan
dipukuli lawannya      memukuli

Jadi, kalau kita ragu apakah di pada kata itu dirangkaikan, kita cobalah membentuk lawan kata itu dengan cara di atas. Apabila ada lawan bentuknya dengan awalan me-, pastilah di pada kata itu adalah awalan dan oleh karenanya haruslah dirangkaikan.

Kata depan di memang harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya karena di jenis ini mempunyai kedudukan sebagai kata. Fungsinya menyatakan ‘tempat’. Cara mengenalnya mudah sekali. Semua kata yang menjadi jawab pertanyaan di mana pastilah kata yang mengandung kata depan di, karena itu jawaban itu harus dituliskan dengan dua patah kata yang terpisah.

Contoh:
Di mana dia?    Jawab:   Di kantor.
Di mana rumahnya?    Jawab:   Di Jakarta.   Di sana.
Di mana kaubeli daging itu?   Jawab:   Di pasar.    Di situ.

Jadi, kata seperti di mana, di sana, di sini, di situ, di atas, di bawah, di tengah, di samping, di depan, di belakang pun harus dituliskan terpisah sebagai dua patah kata seperti di sekolah, di dinding, di laut.

Cara kedua untuk mengenal bahwa di itu kata depan ialah bahwa kata depan di itu mempunyai pasangan yaitu kata depan dari dan ke.
Contoh:
di sana              ke sana              dari sana
di mana            ke mana            dari mana
di pasar            ke pasar            dari pasar

Namun, ada beberapa bentuk kecuali. Pertama, kata kepada dan daripada selalu harus dituliskan serangkai sebagai sepatah kata saja. Kedua, kata kemari juga dituliskan serangkai sebagai sepatah kata karena tidak ada pasangannya di mari dan dari mari. Ketiga, kata ke luar sebagai lawan kata ke dalam harus dibedakan dari kata keluar lawan kata masuk. Bentuk yang kedua ini kata kerja.
Contoh:
Azis keluar dari pintu belakang.
Dari tadi dia memandang ke luar.

Begitu ajaran Pak Yus Badudu. Mudah ‘kan? Aku yakin setelah membaca ini kita semua bisa menuliskan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan dengan benar.

Fenomena datang terlambat

Fenomena datang terlambat

Datang terlambat katanya sudah menjadi budaya orang Melayu (baca: Indonesia). Datang terlambat ke suatu rapat, ke suatu undangan acara, dst, dari lingkup yang paling kecil di rapat RT, rapat organisasi, sampai rapat suatu perusahaan kelas raksasa. Dari undangan acara pertemuan yang dibuat oleh paguyuban atau organisasi tanpa bentuk, sampai undangan acara organisasi kemasyarakatan kelas kakap.

Read More Read More

Kini bagian kami

Kini bagian kami

Waktu mau perayaan 17-an tahun lalu (2007), aku coretkan seuntai puisi yang semula untuk dibacakan oleh salah satu anak muda di kavling tempat tinggalku. Tapi urung, karena ada materi yang lebih pas dibacakan saat itu. Sayang dibuang sayang, puisi itu aku posting di sini.

Kini bagian kami

Kami pasti percaya
perjuangan para pahlawan bertaruh nyawa
demi memerdekakan bangsa
dari belenggu penjajahnya

Kami pasti percaya
sebagian yang melanjutkan perjuangannya
memberi yang terbaik yang mereka punya
tanpa mengharap puji dan puja

Namun sama kita tahu
bagaimana nasib Indonesiaku
dalam 62 tahun perjalanan bangsaku
jauh…, jauh dari negeri yang terpandang dan maju

Generasi pasti berganti
kini bagian kami
kini giliran kami
memegang kendali
untuk membenahi, memperbaiki, dan menyusun kembali
keping-keping potensi yang terserak di sana-sini

Kini bagian kami
membangun Pertiwi

Jakarta, Juli-Agustus 2007